Loading
 
Rabu, 22 Oktober 2014

Beranda   » Cerita Rakyat Nusantara » Putri Tujuh, Asal Mula Nama Kota Dumai (Dumai)

Putri Tujuh, Asal Mula Nama Kota Dumai (Dumai)

Riau - Indonesia
Putri Tujuh, Asal Mula Nama Kota Dumai (Dumai)
Rating : Rating 2.7 2.7 (118 pemilih)

Dulu, Dumai hanyalah sebuah dusun nelayan yang sepi, berada di pesisir Timur Propinsi Riau, Indonesia. Kini, Dumai yang kaya dengan minyak bumi itu, menjelma menjadi kota pelabuhan minyak yang sangat ramai sejak tahun 1999. Kapal-kapal tangki minyak raksasa setiap hari singgah dan merapat di pelabuhan ini. Kilang-kilang minyak yang tumbuh menjamur di sekitar pelabuhan menjadikan Kota Dumai pada malam hari gemerlapan bak permata berkilauan. Kekayaan Kota Dumai yang lain adalah keanekaragaman tradisi. Ada dua tradisi yang sejak lama berkembang di kalangan masyarakat kota Dumai yaitu tradisi tulisan dan lisan. Salah satu tradisi lisan yang sangat populer di daerah ini adalah cerita-cerita rakyat yang dituturkan secara turun-temurun. Sampai saat ini, Kota Dumai masih menyimpan sejumlah cerita rakyat yang digemari dan memiliki fungsi moral yang amat penting bagi kehidupan masyarakat, misalnya sebagai alat pendidikan, pengajaran moral, hiburan, dan sebagainya.  Salah satu cerita rakyat yang masih berkembang di Dumai adalah Legenda Putri Tujuh. Cerita legenda ini mengisahkan tentang asal-mula nama Kota Dumai.

Konon, pada zaman dahulu kala, di daerah Dumai berdiri sebuah kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung. Kerajaan ini diperintah oleh seorang Ratu yang bernama Cik Sima. Ratu ini memiliki tujuh orang putri yang elok nan rupawan, yang dikenal dengan Putri Tujuh. Dari ketujuh putri tersebut, putri bungsulah yang paling cantik, namanya Mayang Sari. Putri Mayang Sari memiliki keindahan tubuh yang sangat mempesona, kulitnya lembut bagai sutra, wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama, bibirnya merah bagai delima, alisnya bagai semut beriring, rambutnya yang panjang dan ikal terurai bagai mayang. Karena itu, sang Putri juga dikenal dengan sebutan Mayang Mengurai.

Pada suatu hari, ketujuh putri itu sedang mandi di lubuk Sarang Umai. Karena asyik berendam dan bersendau gurau, ketujuh putri itu tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang sedang mengamati mereka, yang ternyata adalah Pangeran Empang Kuala dan para pengawalnya yang kebetulan lewat di daerah itu. Mereka mengamati ketujuh putri tersebut dari balik semak-semak. Secara diam-diam, sang Pangeran terpesona melihat kecantikan salah satu putri yang tak lain adalah Putri Mayang Sari. Tanpa disadari, Pangeran Empang Kuala bergumam lirih, “Gadis cantik di lubuk Umai....cantik di Umai. Ya, ya.....d‘umai...d‘umai....” Kata-kata itu terus terucap dalam hati Pangeran Empang Kuala. Rupanya, sang Pangeran jatuh cinta kepada sang Putri. Karena itu, sang Pangeran berniat untuk meminangnya.

Beberapa hari kemudian, sang Pangeran mengirim utusan untuk meminang putri itu yang diketahuinya bernama Mayang Mengurai. Utusan tersebut mengantarkan tepak sirih sebagai pinangan adat kebesaran raja kepada Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Pinangan itu pun disambut oleh Ratu Cik Sima dengan kemuliaan adat yang berlaku di Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Sebagai balasan pinangan Pangeran Empang Kuala, Ratu Cik Sima pun menjunjung tinggi adat kerajaan yaitu mengisi pinang dan gambir pada combol paling besar di antara tujuh buah combol yang ada di dalam tepak itu. Enam buah combol lainnya sengaja tak diisinya, sehingga tetap kosong. Adat ini melambangkan bahwa putri tertualah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu.

Mengetahui pinangan Pangerannya ditolak, utusan tersebut kembali menghadap kepada sang Pangeran. “Ampun Baginda Raja! Hamba tak ada maksud mengecewakan Tuan. Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan Tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai.” Mendengar laporan itu, sang Raja pun naik pitam karena rasa malu yang amat sangat. Sang Pangeran tak lagi peduli dengan adat yang berlaku di negeri Seri Bunga Tanjung. Amarah yang menguasai hatinya tak bisa dikendalikan lagi. Sang Pangeran pun segera memerintahkan para panglima dan prajuritnya untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Maka, pertempuran antara kedua kerajaan di pinggiran Selat Malaka itu tak dapat dielakkan lagi.  

Di tengah berkecamuknya perang tersebut, Ratu Cik Sima segera melarikan ketujuh putrinya ke dalam hutan dan menyembunyikan mereka di dalam sebuah lubang yang beratapkan tanah dan terlindung oleh pepohonan. Tak lupa pula sang Ratu membekali ketujuh putrinya makanan yang cukup untuk tiga bulan. Setelah itu, sang Ratu kembali ke kerajaan untuk mengadakan perlawanan terhadap pasukan Pangeran Empang Kuala. Sudah 3 bulan berlalu, namun pertempuran antara kedua kerajaan itu tak kunjung usai. Setelah memasuki bulan keempat, pasukan Ratu Cik Sima semakin terdesak dan tak berdaya. Akhirnya, Negeri Seri Bunga Tanjung dihancurkan, rakyatnya banyak yang tewas. Melihat negerinya hancur dan tak berdaya, Ratu Cik Sima segera meminta bantuan jin yang sedang bertapa di bukit Hulu Sungai Umai.

Pada suatu senja, pasukan Pangeran Empang Kuala sedang beristirahat di hilir Umai. Mereka berlindung di bawah pohon-pohon bakau. Namun, menjelang malam terjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Secara tiba-tiba mereka tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan para pasukan Pangeran Empang Kuala. Tak sampai separuh malam, pasukan Pangeran Empang Kaula dapat dilumpuhkan. Pada saat pasukan Kerajaan Empang Kuala tak berdaya, datanglah utusan Ratu Cik Sima menghadap Pangeran Empang Kuala.

Melihat kedatangan utusan tersebut, sang Pangeran yang masih terduduk lemas menahan sakit langsung bertanya, “Hai orang Seri Bunga Tanjung, apa maksud kedatanganmu ini?”. Sang Utusan menjawab, “Hamba datang untuk menyampaikan pesan Ratu Cik Sima agar Pangeran berkenan menghentikan peperangan ini. Perbuatan kita ini telah merusakkan bumi sakti rantau bertuah dan menodai pesisir Seri Bunga Tanjung. Siapa yang datang dengan niat buruk, malapetaka akan menimpa, sebaliknya siapa yang datang dengan niat baik ke negeri Seri Bunga Tanjung, akan sejahteralah hidupnya,” kata utusan Ratu Cik Sima menjelaskan. Mendengar penjelasan utusan Ratu Cik Sima, sadarlah Pangeran Empang Kuala, bahwa dirinyalah yang memulai peperangan tersebut. Pangeran langsung memerintahkan pasukannya agar segera pulang ke Negeri Empang Kuala.

Keesokan harinya, Ratu Cik Sima bergegas mendatangi tempat persembunyian ketujuh putrinya di dalam hutan. Alangkah terkejutnya Ratu Cik Sima, karena ketujuh putrinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Mereka mati karena haus dan lapar. Ternyata Ratu Cik Sima lupa, kalau bekal yang disediakan hanya cukup untuk tiga bulan. Sedangkan perang antara Ratu Cik Sima dengan Pangeran Empang Kuala berlangsung sampai empat bulan.

Akhirnya, karena tak kuat menahan kesedihan atas kematian ketujuh putrinya, maka Ratu Cik Sima pun jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Sampai kini, pengorbanan Putri Tujuh itu tetap dikenang dalam sebuah lirik:

Umbut mari mayang diumbut
Mari diumbut di rumpun buluh
Jemput mari dayang dijemput
Mari dijemput turun bertujuh 

Ketujuhnya berkain serong
Ketujuhnya bersubang gading
Ketujuhnya bersanggul sendeng
Ketujuhnya memakai pending

Sejak peristiwa itu, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambil dari kata “d‘umai” yang selalu diucapkan Pangeran Empang Kuala ketika melihat kecantikan Putri Mayang Sari atau Mayang Mengurai. Di Dumai juga bisa dijumpai situs bersejarah berupa pesanggarahan Putri Tujuh yang terletak di dalam komplek kilang minyak PT Pertamina Dumai. Selain itu, ada beberapa nama tempat di kota Dumai yang diabadikan untuk mengenang peristiwa itu, di antaranya: kilang minyak milik Pertamina Dumai diberi nama Putri Tujuh; bukit hulu Sungai Umai tempat pertapaan Jin diberi nama Bukit Jin. Kemudian lirik Tujuh Putri sampai sekarang dijadikan nyanyian pengiring Tari Pulai dan Asyik Mayang bagi para tabib saat mengobati orang sakit. (SM/sas/5/7-07)

Sumber:

  • Disadur dari buku: Legenda Putri Tujuh: Asal Mula Kota Dumai. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adicita Karya Nusa, 2005.
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Tradisi.
Dibaca 53.512 kali


Rating :
Silahkan memberikan rating anda terhadap cerita ini.

Komentar untuk "Putri Tujuh, Asal Mula Nama Kota Dumai (Dumai)"

ryan 11 Agustus 2014

"Sebesar ituh kerajaan Sri Bunga Tanjung,saya lahir dan besar di Dumai, tapi tidakkah warga Dumai sadar kalau tidak ada sedikit pun peninggalan dari kerajaan yang besar ini apa lagi yang di pesisir pantai jelas banyak kapal yang bersandar tapi jangankan istana tombak pengawal yang sudah berperang bahkan periuk pun tidak ada. SADAR KAH KALIAN BAHWA ITU HANYA SEDIKIT YANG KALIAN KETAHUI TENTANG DUMAI JADI JANGAN BANYAK BERCERITA KALAU KITA TIDAK BISA MEMBERI BANYAK KEPASTIAN KE PUBLIK TENTANG KERAJAAN "SRI BUNGA TANJUNG"."

basir 9 Agustus 2014

"Saya sagat senang membaca, aapalagi menyangkut sejarah, termasuk sejarah Dumai. Apalagi saya tinggal didumai, rasanya bangga ternyata Dumai mempunyai lengenda yang takkalah serunya dengan legenda yang lain, harapan sanya, semoga legenda ini meng-indonesia, suykur-syukur macanegara. Amin... "

rey 28 Mei 2014

"Tq...assalammua"alaikom..Terimakasih banyak bagi rekan2 terdahulu yang telah memuat cerita ini.. tapi yang diceritakan di sini adalah cerita ringkasnya saja... alangkah baiknya... diceritakan sedetail mungkin..namun ini sudah baik bagiku.. tq tq tq, semoga sukses dan dilimpah kan rezeki buat yg memuat cerita ini."

bmgnvt 22 Oktober 2012

"Jadi teringat rumah saya yang dulu di Dumai, jaraknya hanya 200m dari tempat pesanggrahan putri Tujuh, sayangnya lokasinya di dalam kilang Pertmina, jadi sangat sulit untuk masuk. Kita hanya bisa liat dari luar pagar Kilang.

Sebaiknya Pertamina bisa membukanya untuk Umum agar orang luar bisa melihat sejarah Dumai, dan bisa di jadikan objek wisata.
Saya yakin banyak orang dumai sudah tau legendanya tapi belum pernah melihat tempat pesanggrahan Putri Tujuh tersebut."

Andie 22 Agustus 2012

"Legenda putri tujuh koq adanya diberbagai daerah...
Dibengkalis juga ada..."

trisno 16 Februari 2012

"Saya suka membaca kisah-kisah dan petuah daerah. Semenjak saya menemukan website ini, saya katakan "Saya suka Indonesia". Banyak kisah rakyat yang melegenda dan banyak hikmah yang dipetik darinya. O ya, maaf ini, sebelum dipublish. perlu diedit kembali tulisannya. sebab, dari beberapakali membaca cerita yang dipublish, sepertinya masih ada kesalahan di beberapa redaksionalnya. Entah itu kalimatnya atau bahkan pelaku dalam ceritanya. Tterimakasih admin ceritarakyatnusantara.com, saya suka postingannya. Sukses selalu ya!"

ANTU PELDA 28 Januari 2012

"SEMOGA lebih banyak lagi orang yg mau menghargai tradisi dan kebudayan daerah mereka. Ccerita yang bagus, like it..."

nolo sapria 28 Januari 2012

"Seandainya cerita rakyat ini di filmkan, jadinya kan lebih seru. Semoga lebih banyak orang yang menghargai kebudayaan daerah mereka."

Cantika putri 5 Januari 2012

"Ww sangat menyedih khan ceritahya...... hiks.. hiks.. hiks.. add facebook aq yeach nma nya Slaloee Ingat Kmu Clama’a."

nisa 27 Desember 2011

"Asyik juga cerita puteri 7 ini, apalagi klo difilmkan oleh televisi Dumai yakni DKD TV agar anak cucu yg hidup dan berkembang dapat mengetahui sejarah asal mula kota yg ditempatinya."

Page

Berikan Komentar Anda

Bookmark and Share