Loading
 
Selasa, 30 September 2014

Beranda   » Cerita Rakyat Nusantara » Batu Penyu (Terengganu)

Batu Penyu (Terengganu)

Terengganu - Malaysia
Batu Penyu (Terengganu)
Rating : Rating 3.3 3.3 (7 pemilih)

Rantau Abang adalah nama sebuah pekan[1] yang berada di wilayah Terengganu, Malaysia. Pekan yang terletak sekitar 80 kilometer dari Kuala Terengganu atau sekitar 22 kilometer dari Kuala Dungun ini memiliki pantai dengan hamparan pasir putih yang indah. Pantai Rantau Abang ini dikenal sebagai tempat bertelur penyu belimbing pada setiap bulan Mei hingga Agustus. Mengapa gerombolan penyu belimbing menjadikan pantai ini sebagai tempat bertelur? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Batu Penyu berikut ini!

* * *

Alkisah, di kawasan pesisir Terengganu, Malaysia, hiduplah dua ekor penyu, jantan dan betina. Sepasang penyu tersebut senantiasa hidup rukun dan damai. Ke mana pun pergi, mereka selalu berdua.

Pada suatu hari, mereka berenang menyusuri pantai Terengganu. Setelah berhari-hari berenang, mereka pun tiba di suatu tempat yang belum pernah mereka datangi.

“Bang, kita sekarang berada di mana?” tanya Penyu Betina.

“Entahlah, Dik. Abang juga tidak tahu. Abang belum pernah ke tempat ini,” jawab Penyu Jantan.

Pada saat itu, ada seekor Ikan Buntal[2] melintas di tempat itu. Kedua penyu itu pun hendak bertanya kepada Ikan Buntal. Namun, belum sempat mereka bertanya, Ikan Buntal itu mendahului bertanya.

‘Hei, hendak ke manakah kalian?”

“Sebenarnya kami sedang tersesat,” jawab Penyu Jantan.

“Kalau boleh kami tahu, apa nama tempat ini?” tanya Penyu Betina penasaran.

“Tempat ini bernama Laut Rantau Abang. Di daratan sana, ada sebuah taman yang memiliki pemandangan yang indah,” jawab Ikan Buntal.

“Apakah kamu pernah ke situ?” tanya Penyu Jantan.

“Belum,” jawab Ikan Buntal singkat.

“Kenapa?” tanya Penyu Jantan ingin tahu.

“Semua jenis ikan, termasuk saya, tidak akan mampu mencapai tempat itu. Kalian berdua beruntung, karena kalian dapat hidup di darat dan di laut, sedangkan saya hanya dapat hidup di laut, sehingga tidak dapat menikmati keindahan taman itu,” jawab Ikan Buntal merendah.

Mendengar keterangan Ikan Buntal, kedua penyu itu menjadi penasaran. Setelah berpamitan kepada Ikan Buntal, mereka pun naik ke darat hendak bermain-main di taman itu. Dalam perjalanan menuju ke taman, mereka bertemu dengan seekor Kepiting.

”Kalian mau ke mana?” tanya Kepiting itu.

”Kami hendak bermain-main di taman itu. Kata Ikan Buntal, pemandangan di tempat itu sangat indah,” jawab Penyu Jantan.

”Memang benar. Tetapi, kalian harus berhati-hati, karena di taman itu ada sebuah larangan yang tidak boleh dilanggar,”jelas si Kepiting.

”Larangan apakah itu?” tanya Penyu Jantan penasaran.

”Ketahuilah, air kolam yang ada di taman itu tidak boleh diminum. Siapa pun yang meminumnya akan mendapat kutukan,” kata Kepiting itu mengingatkan.

”Kutukan... ” jawab Penyu Jantan sambil tersenyum simpul seolah-olah tidak percaya.

Lain halnya dengan si Penyu Betina, ia sangat khawatir terhadap larangan itu. Setelah itu, kedua penyu itu meneruskan perjalanan menuju ke taman. Namun, sebelum mereka sampai, tiba-tiba si Penyu Betina berhenti.

”Kenapa berhenti, Dik?” tanya Penyu Jantan heran.

”Bang! Adik takut dengan larangan itu. Sebaiknya kita pulang saja,” ajak Penyu Betina.

“Tidak, Dik! Adik jangan terlalu percaya dengan kata-kata si Kepiting. Dia hanya mengada-ada,” jawab Penyu Jantan tetap bersikukuh hendak pergi ke taman itu.

”Jangan, Bang! Adik mohon, kita jangan pergi ke sana. Ayo, kita pulang saja!” Penyu Betina terus membujuk Penyu Jantan.

”Kalau Adik takut, sebaiknya Adik tunggu di sini saja. Abang harus pergi ke taman itu,” kata Penyu Jantan.

Walaupun telah berkali-kali dibujuk, Penyu Jantan tetap saja tidak mau mengurungkan niatnya. Akhirnya, Penyu Betina pun mengalah.

”Tapi, jangan lama-lama ya, Bang!” kata Penyu Betina dengan nada khawatir.

Setelah itu, Penyu Jantan berjalan menuju ke taman itu. Sesampai di sana, ia terkagum-kagum melihat keindahan taman itu. Ia pun berkeliling-keliling di dalam taman untuk menikmati pemandangan yang indah. Setelah beberapa lama berkeliling, Penyu Jantan merasa haus. Ia teringat dengan keterangan si Kepiting bahwa di taman itu ada sebuah kolam yang sangat jernih airnya.

Setelah beberapa lama mencari, ia pun menemukan kolam itu. Tanpa berpikir panjang, ia segera mendekati dan meminum airnya.

”Aduhaiii..., segaaarnya,” ucap Penyu Jantan setelah meneguk air di kolam itu.

”Ah, Kepiting itu hanya ingin membodohiku. Nyatanya, setelah meminum air kolam ini aku tidak apa-apa. Justru badanku menjadi sehat dan segar” gumamnya.

Namun tanpa diduga, tiba-tiba penglihatannya mulai kabur dan kepalanya menjadi pusing.

”Aduuuhhhh, kepalaku sakit sekali,” Penyu Jantan menjerit kesakitan.

Perlahan-lahan, seluruh tubuhnya menjadi kaku dan akhirnya tidak dapat bergerak sedikit pun. Walaupun berkali-kali berusaha untuk menggerakkan keempat kakinya untuk melangkah, tetapi tetap saja tidak bisa bergerak. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba langit menjadi gelap. Petir menyambar-nyambar. Hujan pun turun dengan lebat. Dalam waktu sekejap, tiba-tiba Penyu Jantan berubah menjadi batu. Setelah itu, langit pun kembali terang. Rupanya ia benar-benar terkena kutukan, karena telah melanggar larangan itu.

Sementara itu, Penyu Betina yang sejak tadi menunggu mulai khawatir terhadap keadaan Penyu Jantan.

”Kenapa Abang belum juga pulang? Jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya,” gumam Penyu Betina gelisah.

Baru saja selesai bergumam, tiba-tiba seekor burung camar menghampirinya.

”Hei, kenapa kamu tampak murung?” tanya Burung Camar.

”Iya. Sejak tadi suamiku belum kembali dari taman itu,” jawab Penyu Betina cemas.

”Jadi, penyu di taman itu suamimu?” tanya Burung Camar dengan serius.

”Benar. Apakah kamu melihatnya, Camar?” Penyu Betina balik bertanya.

”Yah, saat melintas di atas taman itu, saya melihat ada seekor penyu sedang berdiri di pinggir kolam. Setelah saya hampiri, rupanya ia sudah menjadi batu. Sepertinya ia terkena kutukan, karena meminum air kolam di taman itu,” jawab Burung Camar.

”Ha, suamiku menjadi Batu!” Penyu Betina tersentak kaget.

”Jadi, benar apa yang dikatakan si Kepiting,” sambungnya.

Setelah mendengar kabar buruk itu, Penyu Betina sangat sedih. Namun, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk kembali ke laut. Setiap musim bertelur, yaitu bulan Mei hingga Agustus, Penyu Betina pergi ke taman untuk bertelur di samping batu penyu itu. Setiap mengeluarkan telur, ia selalu menangis karena teringat dengan Penyu Jantan.

Sejak itu, seluruh keturunan penyu itu selalu pergi ke tempat itu untuk bertelur. Setiap mengeluarkan telur, mereka selalu menangis. Menurut kepercayaan masyarakat, mereka menangis karena merasa iba terhadap nasib yang telah menimpa nenek moyang mereka, si Penyu Jantan, yang terkena kutukan. Oleh masyarakat setempat, Penyu Jantan yang terkena kutukan itu menyebutnya Batu Penyu. Hingga saat ini, Batu Penyu tersebut dapat kita saksikan di Pantai Rantau Abang seperti yang terlihat pada foto di atas.

* * *

Demikian cerita Batu Penyu dari Trengganu, Malaysia. Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang terkandung di dalamnya adalah akibat yang ditimbulkan oleh sifat keras kepala. Sifat ini tercermin pada perilaku si Penyu Jantan yang tidak mau mendengar nasehat si Penyu Betina dan si Kepiting untuk tidak meminum air kolam yang ada di taman tersebut. Akibatnya, ia pun berubah menjadi batu karena terkena kutukan. Terkait dengan sifat ini, dalam tunjuk ajar Melayu dikatakan:

kalau tak mau mendengar nasehat,
alamat celaka dunia akhirat

kalau tak mau mendengar cakap orang,
alamat badan akan terbuang

(SM/sas/64/04-08)

Sumber:

  • Isi cerita diadaptasi dari Puteh, Othman dan Aripin Said. 2004. Himpunan 366 Cerita Rakyat Malaysia. Kuala Lumpur: PRIN-AD SDN. BHD.
  • Anonim. “Santai”, (http://www.hmetro.com.my/Current_News/myMetro/Thursday/Santai/ 20080327100327/Article/indexv_html, diakses tanggal 11 April 2008.
  • Anonim. “ Rantau Abang: Batu Penyu Rantau Abang,” (http://209.85.175.104/search?q=cache:G--l2f8ltpoJ:wapedia.mobi/ms/ Rantau_Abang+batu+penyu+rantau+ abang&hl=id&ct=clnk&cd=4&gl=id, diakses tanggal 11 April 2008.
  • Anonim. “Untuk Pengetahuan Anda,” (http://www.rediesh.com/category/untuk-pengetahuan-anda/page/2, diakses tanggal 11 April 2008.
  • Effendy, Tenas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru, Bappeda Tingkat I Riau.
  • Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

_________________
Kredit foto :
www.rediesh.com



[1] Pekan ialah suatu wilayah atau daerah yang didiami oleh manusia, yang biasanya lebih besar dari kampung, tetapi lebih kecil dari bandar (kota niaga).

[2] Ikan Buntal adalah sejenis ikan laut berbisa atau beracun yang dapat menggembungkan perutnya jika tgersentuh. Ikan ini memiliki beberapa jenis, di antaranya; buntal duri (diodon hystrix), buntal landak (diodon nyatri), buntal pisang (ostracion tubercularis).

Dibaca 3.856 kali


Rating :
Silahkan memberikan rating anda terhadap cerita ini.

Berikan Komentar Anda

Bookmark and Share